Warga Tionghoa Pontianak Peringati Hari Bakcang, Perang Air di Sungai Kapuas

19 Juni 2026 15:08 WIB
Tradisi tahunan yang sarat nilai sejarah dan budaya itu digelar oleh Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Warga Tionghoa di Kota Pontianak memperingati Hari Bakcang 2577 Kongzili/2026 dengan penuh khidmat dan semarak, Jumat (20/6/2026).

Tradisi tahunan yang sarat nilai budaya itu digelar oleh Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT). Prosesi diawali dengan menyusuri Sungai Kapuas menggunakan kapal wisata.

Setelah itu, peserta melempar bakcang ke sungai dan mengikuti tradisi perang air yang menjadi bagian dari perayaan.

Bakcang merupakan makanan tradisional masyarakat Tionghoa. Terbuat dari beras ketan dan dibungkus daun bambu. Isinya daging ayam atau daging cincang berbumbu.

Kudapan ini telah dikenal sejak zaman Dinasti Zhou. Menjadi bagian penting dari Festival Duanwu atau Hari Bakcang.

Menurut legenda yang diwariskan turun-temurun, tradisi Hari Bakcang berawal dari rasa simpati rakyat kepada Qu Yuan.

Ia adalah pejabat dan penyair terkenal dari Negara Chu  yang hidup pada masa Tiongkok kuno.

"Hari Bakcang diperingati untuk mengenang Qu Yuanyang sangat dicintai rakyat karena kejujuran, kerendahan hati, dan jiwa patriotismenya," ujar pengurus MABT Kota Pontianak, Adi Sucipto.

Qu Yuan diasingkan setelah difitnah lawan politiknya. Saat Negara Chu mengalami kemunduran, ia memilih mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke Sungai Miluo.

Masyarakat yang berusaha mencari jasadnya kemudian melempar bungkusan nasi ke sungai agar tidak dimakan ikan.

Tradisi itulah yang diyakini menjadi cikal bakal paerayaan Hari Bakcang yang dikenal hingga saat ini.

"Jika beliau masih hidup, makanan itu diharapkan dapat menjadi bekal baginya," kata Adi.

Selain tradisi melempar bakcang, masyarakat Tionghoa juga melaksanakan tradisi mandi dan mengambil air sungai saat matahari berada tepat di atas kepala.

Tradisi tersebut dipercaya telah berlangsung sejak zaman Tiongkok kuno dan diperingati secara turun-temurun.

Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, air yang terkena sinar matahari penuh diyakini memiliki khasiat tertentu bagi kesehatan.

"Karena itu masyarakat berbondong-bondong mandi dan mengambil air sungai untuk dibawa pulang," pungkasnya.


Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar