Karhutla Sambas Capai 500 Hektare, Manggala Agni: Air Masih Menjadi Kendala
SAMBAS, insidepontianak.com – Manggala Agni Kabupaten Sambas mencatat sebanyak 500 hektare lahan yang terbakar di Kabupaten Sambas yang tersebar di berbagai kecamatan.
Komandan Regu (Danru) Manggala Agni Daops Sambas, Hendra Cipta, menyebutkan bahwa titik panas (hotspot) masih terpantau aktif, salah satunya di wilayah Sebubus, Kecamatan Paloh. Lokasi ini cukup rawan karena berada dekat dengan pantai dan dipengaruhi oleh arah angin yang cukup kencang.
“Untuk karhutla saat ini masih terjadi dan terpantau hotspot di daerah Sebubus, Paloh. Areanya ini dekat pantai dan dipengaruhi angin,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Selain Paloh, wilayah yang juga sering menjadi lokasi kebakaran antara lain Selakau Tua, Tempapan Hulu, Sengawang Lela, hingga Simpang Empat Tangaran. Tidak hanya itu, kebakaran juga terjadi di Kecamatan Sajingan Besar, tepatnya di wilayah Sungai Bening dan Santaban.
Dalam penanganannya, tim Manggala Agni mengaku memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait ketersediaan sumber air. Di beberapa lokasi, air mengikuti pasang surut air laut, sehingga saat air surut, pasokan menjadi terbatas.
“Kesulitan kami di lapangan yaitu sumber air. Ada lokasi yang berair, ada juga yang mengandalkan pasang surut. Kalau sudah surut, airnya habis, jadi kita harus membuat lubang tampungan air lagi agar bisa digunakan untuk pemadaman,” jelasnya.
Meski demikian, upaya pemadaman dan pembatasan api terus dilakukan maksimal.
“Kesulitan pemadaman itu fifty fifty, tapi kita sebagai petugas harus bisa memblokir agar api tidak meluas. Alhamdulillah pemblokiran sudah berhasil dilakukan dan tidak terjadi perluasan area yang signifikan,” tambahnya.
Kata dia, berdasarkan pantauan di lapangan, sebagian besar kebakaran disebabkan oleh faktor manusia atau kelalaian. Ada oknum yang membuka lahan dengan cara dibakar saat musim kemarau, hingga kasus di Tangaran, yaitu percikan api dari alat berat (excavator) yang menyambar dedaunan kering.
“Kami lihat ada kelalaian, mungkin ada yang membuka kebun dengan cara dibakar. Ada juga kejadian seperti di Tangerang, kelalaian operator excavator karena tidak memantau pekerjaan, menyebabkan api dari mesin menjalar ke daun kering,” ungkapnya.
Akibat kejadian ini, tidak sedikit kerugian yang dialami warga, mulai dari tanaman yang baru ditanam hingga tanaman siap panen yang ikut hangus terbakar.
Ia menambahkan, Ke depannya, Manggala Agni akan terus memperketat patroli (Koli) dan sosialisasi. Mereka juga akan berkoordinasi dengan perusahaan-perusahaan di sekitar untuk meminta bantuan pembuatan lumbung air serta dukungan peralatan saat terjadi kebakaran.
Evaluasi bersama BPBD, KPH, Camat, hingga tingkat desa juga akan digelar untuk memperbaiki sistem penanganan.
“Harapan kami, masyarakat jangan bermain api apalagi di musim panas kering seperti ini. Mari sama-sama jaga lingkungan agar terhindar dari bahaya kebakaran,” pungkasnya. (*)
Penulis : Antonia Sentia
Editor : -

Leave a comment