Bangkit dari Pandemi, Molila Cookies Tumbuh Berkat Dukungan Pembiayaan Bank Kalbar

20 Agustus 2026 16:51 WIB
Molila Cookies Tumbuh Berkat Dukungan Pembiayaan Bank Kalbar/IST

SEKADAU, insidepontianak.com – Pandemi Covid-19 sempat membuat aktivitas usaha Hartini di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, ikut terdampak. Namun, di tengah keterpurukan itu, ia justru menemukan peluang baru.

Hartini memilih memutar strategi dengan merintis usaha kue kering dari rumah. Bermodal peralatan sederhana dan keberanian mencoba, ia mulai memproduksi nastar sedikit demi sedikit.

Kini, usaha yang diberi nama Molila Cookies itu telah berkembang. Dari dapur rumah di Jalan Pelajar, Sungai Ringin, Kabupaten Sekadau, Hartini mampu meningkatkan kapasitas produksi, melayani pesanan luar daerah, hingga membuka outlet sendiri.

Nastar menjadi produk andalan Molila Cookies. Selain itu, tersedia pula berbagai kue kering seperti sultan, kacang goreng, dan bakpia.

“Dari hikmah Covid kemarin, usaha kita di pasar agak menurun. Jadi kita putar otak, istilahnya. Kita bikin usaha baru dengan merintis kue kering, khususnya nastar. Awalnya sedikit-sedikit, akhirnya semakin banyak,” ujar Hartini.

Berawal dari Oven di Dapur Rumah

Pada awal merintis, Hartini memanfaatkan oven yang sudah dimilikinya. Produksi dilakukan secara sederhana dari rumah.

Seiring waktu, permintaan pelanggan mulai meningkat. Bahkan, pesanan tidak hanya datang dari sekitar Sekadau, tetapi juga mulai ada permintaan untuk dikirim ke luar kota.

Kondisi itu membuat Hartini menyadari bahwa kapasitas produksinya perlu ditingkatkan. Oven kecil yang digunakan sebelumnya tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan produksi.

Di tengah kebutuhan tersebut, dukungan pembiayaan dari Bank Kalbar menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Molila Cookies.

Hartini memperoleh pembiayaan melalui Kredit Usaha Mikro (KUM) Bank Kalbar sebesar Rp 5 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli oven berkapasitas lebih besar.

“Waktu itu kita dibantu Bank Kalbar dengan biaya KUM untuk UMKM. Kita dapat Rp 5 juta dan kita beli oven yang lebih besar daripada oven sebelumnya. Karena oven yang kita punya produksinya tidak bisa banyak, sedangkan permintaan sudah mulai meningkat dan ada permintaan kirim ke luar kota,” katanya.

Dari satu oven, Molila Cookies kini memiliki dua oven.

Peralatan lain juga terus bertambah. Mixer yang semula hanya berukuran kecil kini berkembang hingga berkapasitas sekitar 20 liter. Jumlah mixer yang awalnya satu unit kini menjadi tiga unit.

“Dari alat-alat, oven dari satu bisa jadi dua. Mixernya dari satu bisa jadi tiga. Alhamdulillah, dengan bantuan alat pada awal mulanya itu, kita semakin berani untuk mengembangkan usaha agar lebih maju,” ujar Hartini.

Kini Punya Outlet dan QRIS

Pertumbuhan usaha tidak berhenti pada peningkatan peralatan produksi. Molila Cookies kini juga telah membuka outlet.

Saat Hartini menceritakan perkembangan usahanya, outlet tersebut baru beroperasi sekitar satu hingga dua hari. Meski masih terbilang baru, keberadaan outlet menjadi langkah penting untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus memudahkan pelanggan mendapatkan produk secara langsung.

Molila Cookies juga mengikuti perkembangan transaksi digital dengan menyediakan pembayaran melalui QRIS.

Dengan fasilitas tersebut, pelanggan tidak perlu membawa uang tunai ketika membeli produk.

“Sekarang dengan adanya outlet Molila Cookies, masyarakat yang mau belanja, konsumen baru maupun yang sudah lama, tidak harus membawa uang cash. Kita sekarang sudah ada QRIS, jadi pembayarannya bisa ditap melalui QRIS,” tutur Hartini.

Dari sisi legalitas, Hartini juga berupaya menjaga kepercayaan konsumen. Produk nastar Molila Cookies telah memiliki izin BPOM dan sertifikasi halal.

“Dengan brand Molila Cookies, nastar yang diproduksi ini sudah memiliki izin BPOM. Kita juga sudah halal, sehingga produknya dijamin higienis dan kehalalannya,” katanya.

Ingin UMKM Lain Berani Berkembang

Bagi Hartini, perjalanan Molila Cookies menjadi bukti bahwa keterbatasan modal dan peralatan bukan alasan untuk berhenti berusaha.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi penyemangat bagi pelaku UMKM lain yang sedang merintis usaha.

Menurutnya, pelaku UMKM perlu berani mencoba, mengembangkan usaha secara bertahap, serta tidak menyerah ketika pengajuan pembiayaan belum berhasil.

“Untuk kawan-kawan UMKM, khususnya UMKM Center dan binaan Bank Kalbar, jangan berkecil hati. Seandainya belum mendapatkan bantuan, kita usaha lagi, ajukan lagi. Dari kecil sampai besar kita usahakan, supaya usaha kita bisa lebih luas,” ujarnya.

Semangat itu sejalan dengan dukungan Bank Kalbar terhadap pengembangan UMKM di Kalimantan Barat. Salah satu program yang tersedia adalah KUM Peduli, yakni pembiayaan yang ditujukan untuk membantu pelaku usaha kecil sekaligus mendorong mereka terlepas dari jeratan rentenir.

KUM Peduli memiliki plafon maksimal Rp 5 juta dengan jangka waktu maksimal tiga tahun untuk kebutuhan modal kerja maupun investasi.

Bank Kalbar juga menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan sejumlah kategori pembiayaan, mulai dari KUR Super Mikro hingga Rp 10 juta, KUR Mikro di atas Rp 10 juta hingga Rp 100 juta, dan KUR Kecil di atas Rp 100 juta hingga Rp 500 juta, sesuai ketentuan program.

Direktur Utama Bank Kalbar, Rokidi, menegaskan dukungan kepada UMKM merupakan bagian dari peran perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Bank Kalbar akan terus berupaya memberikan layanan perbankan terbaik kepada masyarakat Kalimantan Barat, termasuk melalui pengembangan layanan dan dukungan terhadap aktivitas perekonomian daerah,” kata Rokidi.

Dari KUM, Hartini Bidik KUR

Bagi Hartini, pembiayaan Rp 5 juta bukanlah akhir perjalanan. Justru dari modal tersebut, ia mulai berani meningkatkan kapasitas produksi dan mengembangkan bisnis.

Kini, ia berharap Molila Cookies dapat melangkah ke tahap berikutnya dengan memperoleh pembiayaan yang lebih besar sesuai kebutuhan dan kemampuan usahanya.

“Saya berharap nanti dari KUM kita bisa naik ke KUR,” ucapnya.

Target Hartini pun tidak kecil. Ia ingin Molila Cookies tidak hanya dikenal di Kabupaten Sekadau, tetapi mampu menembus pasar yang lebih luas di Kalimantan Barat.

“Harapan saya Molila Cookies bisa berkembang lebih maju, lebih besar. Semoga nanti kita bisa buka outlet selain dari rumah, bisa keluar lagi dan ke luar kabupaten, insyaallah sampai ke provinsi,” katanya.

Dalam perjalanan tersebut, Hartini tidak berjalan sendiri. Ia menyebut dukungan suaminya, Suardi, dan putrinya, Halila, menjadi bagian penting dari perkembangan Molila Cookies.

Bagi Hartini, kisah Molila Cookies bermula dari sesuatu yang sederhana: sebuah usaha rumahan, peralatan terbatas, dan keinginan untuk bertahan setelah pandemi.

Namun, langkah kecil itu terus berkembang.

Dari satu oven menjadi dua. Dari satu mixer menjadi tiga. Dari produksi di dapur rumah, kini memiliki outlet. Dari pelanggan sekitar, mulai menerima pesanan dari luar daerah.

Hartini percaya perjalanan tersebut masih jauh dari selesai.

“Kalau kita saling mendukung, maka UMKM bisa naik kelas,” ujarnya.

Bagi Molila Cookies, nastar bukan sekadar produk yang dijual. Di balik setiap kue yang diproduksi, ada cerita tentang keberanian memulai kembali, memanfaatkan peluang, dan perlahan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.(Andi)


Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar