Harga Pertalite Rp20 Ribu Per liter, Bupati Fransiskus: Jual di Atas Rp15 Ribu Akan Ditindak
KAPUAS HULU, insidepontianak.com - Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan akhirnya mengeluarkan surat edaran untuk mengendalikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite di tingkat pengecer.
Pasalnya, harga minyak subsidi ini dijual Rp 18 ribu hingga Rp20 ribu per liter oleh para pengecer, bahkan di beberapa kecamatan dan desa pelosok harga pertalite tembus Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per liter, kondisi ini sudah berlangsung cukup lama.
"Kita sudah keluarkan surat edaran, batas maksimal Rp15 ribu per liter, Tim gabungan akan melakukan pengawasan, jika dijual di atas batas kewajaran makan akan langsung ditertibkan dan ditindak," kata Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan, di Putussibau, Jum'at (4/09/2026).
Fransiskus menjelaskan dirinya sudah mengeliat surat edaran untuk pengendalian harga pertalite sejak Kamis (3/09) kemarin.
Dalam edaran tersebut pengecer diimbau untuk menjual BBM jenis pertalite dalam batas wajar maksimal Rp15 ribu per liter.
Fransiskus mengakui, pasokan BBM ke Kapuas Hulu memang mengalami kendala akibat musim kemarau dan itu terjadi di sejumlah daerah di Kalimantan Barat, akan tetapi sudah ada langkah-langkah yang dilakukan, sehingga ketersediaan BBM di SPBU atau pun APMS tetap ada untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Sebetulnya sudah ada Tim gabungan mengawasi penyaluran BBM di setiap SPBU dan APMS, yang menjadi kendala para pengecer justru menjual pertalite di batas kewajaran, sehingga ini yang ingin kita tangani dan dikeluarkan surat edaran tersebut," jelas Fransiskus.
Dia berharap pedagang eceran dapat mematuhi surat edaran yang telah dikeluarkan, sebab dengan harga yang cukup mahal di pengecer, sangat memberatkan masyarakat.
"Saya imbau pengecer untuk menjual pertalite yang wajar-wajar saja, jika tidak mengindahkan surat edaran, makan Tim gabungan yang akan bergerak melakukan penertiban," pungkasnya.
Untuk diketahui, kenaikan harga pengecer di tingkat kios pengecer sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir, dengan alasan sulitnya mendapatkan BBM di SPBU dampak musim kemarau panjang.(*)
Penulis : Teofilusianto Timotius
Editor : Wati Susilawati

Leave a comment